REPORTER.ASIA -- Pelaksanaan program Klinik Medis Bergerak di Desa Pasir Gadung, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat, tetapi juga memperlihatkan tantangan akses kesehatan yang masih dihadapi warga di sejumlah wilayah pelosok.
Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (7/6/2026), tersebut merupakan kolaborasi antara Rabithah Alam Islami, Islamic Medical Service (IMS), dan Indofest Global Pratama.
Wilayah Desa Pasir Gadung berada di Kabupaten Tangerang yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan industri di Provinsi Banten. Namun, sejumlah kampung di desa tersebut masih menghadapi keterbatasan infrastruktur yang berdampak langsung pada akses layanan dasar masyarakat, termasuk kesehatan.
Kondisi jalan yang rusak, berbatu, dan berkelok menjadi hambatan utama bagi warga ketika membutuhkan pelayanan medis. Situasi ini juga dirasakan oleh tim medis yang harus menempuh medan berat untuk menjangkau lokasi kegiatan.
Melihat kondisi tersebut, penyelenggara memutuskan membagi pelayanan ke dalam dua posko berbeda. Posko pertama ditempatkan di Kampung Teuras yang merupakan wilayah paling terisolasi. Sementara Posko Kampung Sanding melayani warga dari empat kampung sekaligus, yakni Kampung Pasir Gadung, Kampung Sanding, Kampung Bubur, dan Kampung Bubur Sabrang.
Kepala Program Klinik Medis Bergerak, Ridho Muhammad Fatihuddin, menjelaskan bahwa strategi tersebut dilakukan untuk mengatasi hambatan geografis yang dihadapi masyarakat.
Ridho mengatakan, akses logistik dan mobilisasi tim medis ke wilayah ini menjadi tantangan terbesar mereka terutama karena jalannan yang rusak parah dan berbatu.
"Jika hanya berpusat di satu titik, kami khawatir warga dari kampung lain tidak akan bisa menjangkaunya karena kendala transportasi. Oleh karena itu, kami jemput bola dengan membagi dua posko agar jarak tempuh warga lebih dekat," ujar Ridho.
Data panitia menunjukkan sebanyak 653 pasien berhasil mendapatkan layanan kesehatan selama kegiatan berlangsung. Pelayanan yang diberikan mencakup pemeriksaan fisik, konsultasi dokter umum, pemberian resep, serta distribusi obat-obatan sesuai kebutuhan medis masing-masing pasien.
Tingginya jumlah penerima manfaat menggambarkan kebutuhan layanan kesehatan yang besar di wilayah tersebut. Selama ini warga harus menempuh perjalanan sekitar delapan kilometer menuju puskesmas terdekat. Jarak tersebut harus dilalui melalui jalan berbatu dan berkelok dengan waktu tempuh mencapai sekitar 40 menit.
Tantangan yang lebih besar dihadapi warga ketika membutuhkan layanan rumah sakit. Untuk mencapai fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, masyarakat harus melakukan perjalanan lebih dari satu jam. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri terutama bagi warga yang membutuhkan penanganan segera.
Pelaksanaan Klinik Medis Bergerak memberikan alternatif akses kesehatan yang lebih dekat bagi masyarakat. Kehadiran tenaga medis langsung di tengah permukiman warga memungkinkan pemeriksaan dan pengobatan dilakukan tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Ridho menambahkan, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan kesehatan bagi masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi geografis dan infrastruktur wilayah.
THOMAS ALFIAN
