BSW0TpYiGSY8GUroTUOoGfMiBA==
  • Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh

Forum Next Gen Leaders Regional Jawa-Bali Perkuat Kepemimpinan Generasi Muda


REPORTER.ASIA --
Forum Next Gen Leaders (NGL) Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Regional Jawa-Bali memperkuat agenda pembentukan kepemimpinan generasi muda dengan menitikberatkan pada keberanian, integritas, dan kapasitas berpikir. 

Digelar Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) di Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (7/8/2026), forum ini menjadi ruang pembekalan kader untuk membaca perubahan dan menyiapkan diri menghadapi tantangan kepemimpinan masa depan.

Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menempatkan keberanian sebagai salah satu prasyarat penting dalam proses mencetak pemimpin. Menurutnya, kepemimpinan tidak dapat dibangun melalui pola pikir yang sekadar mengikuti arus, melainkan membutuhkan keberanian mengambil perspektif berbeda sekaligus keteguhan menjaga prinsip.

"Keberanian harus total, tidak boleh setengah hati. Generasi muda harus berani berpikir out of the box. Pemimpin tidak lahir dari 'bebekisme', tetapi dari mereka yang memiliki integritas," kata Willy yang membuka kegiatan ini dengan sesi yang dibawakannya.

Bagi Willy, integritas menjadi penghubung antara gagasan dan tindakan. Kepemimpinan tidak semata berkaitan dengan posisi, tetapi bagaimana seseorang mempertahankan konsistensi nilai ketika menjalankan tanggung jawab.

"Kalau ingin menjadi pemimpin, bangunlah integritas. Antara nilai yang dipegang dan perbuatan harus berjalan seiring. Menjadi pemimpin bukan persoalan abal-abal," ujarnya.

Ia juga mengingatkan peserta pada falsafah "hidup berakal, mati beriman". Prinsip tersebut diposisikan sebagai gambaran keseimbangan antara kecerdasan intelektual, keteguhan moral, dan kedalaman spiritual yang diperlukan seorang pemimpin.

Sementara itu, Ketua Umum PP GMH Rizki Ulfahadi menilai kaderisasi kepemimpinan harus melampaui penguatan kapasitas akademik. Keberanian mengambil keputusan, karakter, integritas, wawasan visioner, dan orientasi pengabdian perlu dibentuk dalam satu proses yang berkelanjutan.

"Kami ingin NGL melahirkan pemimpin yang berani mengambil keputusan, berpikir visioner, dan tetap berpegang pada nilai-nilai moral. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang dapat dipercaya, bukan sekadar populer," kata Rizki.

Melalui NGL Regional Jawa-Bali, PP GMH menempatkan penguatan kepemimpinan sebagai investasi jangka panjang untuk membangun generasi muda yang mampu berpikir kritis, memiliki wawasan kebangsaan, dan siap mengabdikan kapasitasnya bagi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.


Type above and press Enter to search.