REPORTER.ASIA -- Keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk karakter sekaligus menjaga generasi dari berbagai pengaruh yang dinilai bertentangan dengan nilai agama dan Pancasila. Perspektif tersebut mengemuka dalam Seminar Kemerdekaan Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) bertema “Pancasila & Kemerdekaan Nilai yang Luhur” di Ballroom Hotel Cosmo Amaroossa, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Seminar yang digelar bersama MPR RI itu menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Ketua Fraksi PKS MPR RI Tifatul Sembiring, Anggota Legislatif FPKS Al Muzzammil Yusuf, serta Duta Besar Palestina dan Sudan untuk Indonesia. Forum tersebut membahas makna kemerdekaan, nilai Pancasila, persoalan kemanusiaan, hingga ketahanan keluarga.
Ketua Presidium BMIWI periode 2026–2027, Oneng Nurul Bariyah, menempatkan keluarga sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun generasi. Menurutnya, penguatan keluarga diperlukan agar orang tua mampu memberikan pendampingan, pendidikan, dan lingkungan yang mendukung perkembangan anak.
“Tujuan daripada perjuangan kemerdekaan Indonesia itu menciptakan masyarakat adil makmur. Itu tidak akan tercapai manakala ada perilaku yang menyimpang,” ujarnya.
Oneng menyebut BMIWI menaungi 42 organisasi Muslimah di Indonesia. Ia menilai dinamika sosial yang berkembang membutuhkan kesamaan visi organisasi dalam memperkuat ketahanan keluarga dan perlindungan generasi muda.
“Kita tidak bisa, ternyata sudah merasuki berbagai hal. Maka di sinilah fungsi keluarga membentengi semua anggota keluarga,” katanya.
Ia juga menyampaikan sikap BMIWI yang menolak LGBT dan mengaitkannya dengan perhatian terhadap nilai agama, kehidupan sosial, kesehatan, serta keberlangsungan generasi. Menurutnya, penguatan keluarga perlu dilakukan melalui pola pengasuhan, pendidikan, dan lingkungan yang kondusif.
“Ketika tidak ada lagi kelahiran anak, maka sebuah bangsa akan punah, lost generation,” ujarnya.
Selain ketahanan keluarga, seminar membahas solidaritas terhadap Palestina dan Sudan. Al Muzzammil Yusuf menegaskan dukungan Indonesia perlu berjalan melalui doa, dana, dakwah, dan diplomasi.
“Ini enggak bisa kerja Indonesia sendiri, kerja dunia internasional, kerja dunia Islam, kerja bersama-sama,” katanya.
Ia menyebut 144 negara mendukung Palestina merdeka, sementara delapan menentang dan sembilan abstain. Menurutnya, dukungan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kerja internasional yang lebih kuat.
Seminar BMIWI akhirnya menempatkan kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah, tetapi tanggung jawab untuk memperkuat keluarga, menjaga generasi, merawat nilai Pancasila, serta memperluas kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.


